Senin, 08 April 2013

Rihlah Perahu Kertas Edisi Wada’ #1



Pagi itu Ahad, 7 April 2013 ± pukul 4 dini hari aku buka mata dan bergegas ambil wudhu. Segera kutunaikan sholat tahajjud bersambung hingga sholat subuh. Usai sholat subuh kucoba tilawah. Aku hanya berhasil melantunkan beberapa lembar mushaf biruku di juz 23, teringat pakaian yang akan kupakai pagi ini belum disetrika (Ahh...selalu ribet sendiri kalau ada saja pakaian yang belum disetrika). Langsung kunyalakan setrika di ruang tengah. Baru dapat kusetrika satu potong, aku teringat kado untuk nikahan tetanggaku belum kubungkus. Untung saja adikku pengertian, ia bersedia menyetrikakan pakaianku. Kuambil kertas kado dan barang yang akan kuhadiahkan. Kutulis ucapan dan doa pada sepotong kertas origami yang sudah kukombinasikan warnanya. Sepertinya waktu yang kubutuhkan untuk menulis ucapan dan membungkusnya kali ini lebih cepat, mungkin sudah semakin mahir. Mengingat, 1-2 tahun terakhir ini hampir tiap bulannya aku harus membungkus kado untuk hadiah pernikahan teman ataupun tetanggaku. Entah yang usianya lebih tua, sebaya, bahkan lebih muda dariku. (Eumm...njut aku kapan yo? Sabar Na, semua sudah Allah atur, diusia keberapapun nantinya, syukuri saja. Semua itu akan indah pada waktunya. InsyaAllah...^^)
Hari ini aku tak bisa menghadiri resepsi pernikahan tetanggaku yang rumahnya sekampung denganku. Ada rasa tak enak, tetapi agendaku juga penting menurutku, karena mungkin ini terakhir agenda kami (aku dan teman-teman di Perahu Kertas*). Maka kuputuskan aku tak menghadiri resepsi itu dan memilih untuk mengikuti agenda rihlah bersama teman-temanku. Acara resepsi itu sudah cukup kuwakilkan pada adikku yang nanti juga akan nyinom di sana bersama pemuda-pemudi yang lain. Beberapa bulan terakhir ini aku memang sengaja tidak banyak terlibat untuk acara sinoman. Isin je (‘_’), bagaimana tidak, lha wong pemudi yang ikut sinoman itu umuran anak SMA. Pemudi yang sebaya dengaku sedikit, beberapa di antaranya merantau ke pulau ataupun negeri seberang, yang lainnya anak kuliahan tapi tak begitu aktif dan yang lain lagi sudah pada nikah. Kalau pemudanya sih yang sebaya denganku masih tetap aktif, hehee... Biarin ahh! Aku aktif di kegiatan yang lain saja.
Jam HP-ku menunjukkan pukul 5.40an, aku bergegas mandi dan siap-siap. Seusai mandi, aku samber bubur yang dibungkus daun pisang itu. Pagi itu aktivitas dapur dan sumur tak terlalu merepotkan, baju-baju sudah kucuci Sabtu kemarin, ibu juga tak memasak karena nanti akan dapat wewehan dari tetanggaku yang punya hajatan itu. Bukan njagakke, tapi ndak mubadzir! Sambil sarapan, kubungkus kado bagian kedua. Ya, kado silang untuk rihlah nanti. Ini malah agak lama mikirin ucapannya. Sang mas’ul telah berpesan sebelumnya, harus ada pesan-doa-ucapan untuk saudaranya, siapapun yang menerimanya. Kutulis beberapa kalimat di atas kertas origami itu, terbesit inspirasi yang kudapat dari bukunya Ustadz Salim, Dalam Dekapan Ukhuwah.
Setelah semuanya beres, aku bersiap untuk berangkat, sebelum keluar dari kamar, tiba-tiba salah satu temanku SMS, “Kamu nunggu dimana say?”. “Per4an ringroad jalan wonosari, ntar nek dah mau berangkat, kasih tahu ya!”, jawabku. Aku memang sengaja menunggu di jalan, daripada turut kumpul di Masjid Mardliyyah UGM, tidak efektif bagiku. Langsung bergegas kukeluarkan sepeda motorku. Setelah pamit dengan adik dan ibukku, akupun langsung berangkat.
(bersambung ya...anak-anak sudah masuk kelas nich, habis pelajaran olahraga...^^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berbagi...^_^