Rabu, 04 Maret 2015

Komentar untuk "Elegi Ritual Ikhlas 7: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas"

Bismillah,
Pada elegi ini, kita dibawa menelisik ulang ketauhidan kita, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah. Tauhid rububiyah, mengajak kita untuk menyadari segenap kesadaran bahwa Allah-lah yang menciptakan kita, Allah yang menjamin rizki kita, Allah yang berkuasa atas diri kita. Maka tak ada kekuatan selain kekuatan Allah sebagai pemilik. Allah adalah subjek atas diri kita. Tauhid uluhiyah, mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah-lah tujuan cinta kita, tujuan ibadah kita, tujuan amal kita. Allah adalah objek kecintaan kita. Allah adalah titik akhir yang kita tuju.

Komentar untuk " Elegi Ritual Ikhlas 6: Cantraka Sakti Berkonsultasi kepada Muhammad Nurikhlas"

Bismillah,
Elegi ritual ikhlas 6, kembali mengingatkan saya akan hakikat "ketaatan". Allah pemilik semua dan segala ilmu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak tahu alias bodoh. Allah Mulia, sedangkan manusia hina. Allah Tak Terbatas, sedangkan manusia penuh keterbatasan. Maka tatkala seruan Allah datang berupa perintah dan larangan, sebagai seorang hamba kita harus menyambutnya segera, lebih segera daripada logika dan alasan, karena setiap apa yang Allah serukan pastilah kebaikan yang terbaik.

Komentar untuk "Elegi Ritual Ikhlas 5: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya"

Bismillah,
Kepunyaan Allah-lah langit dan bumi, beserta apa-apa yang ada di antaranya. Tidak ada kuasa yang lebih berkuasa melainkan kuasa Allah. Ilmu, pangkat, jabatan, kekayaan, kekuasaan, strata sosial, dan semacamnya, hanyalah titipan, tak ada yang kekal. Jika Allah berkehendak memberi maka ada, jika Allah berkehendak mencabut maka musnahlah. Tak ada yang bisa disombongkan dari diri manusia. Makhluk lemah penuh kehinaan. Ketika kita dihormati, sungguh bukan karena apa yang kita miliki, namun karena Allah masih berkenan menutup kehinaan diri kita, lantas Allah sematkan jabatan, pangkat, kekayaan, kekuasaan...untuk menguji kita. Dzalim-kah atau Adil?

Komentar untuk "Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas"

Bismillah,
Membaca elegi ritual ikhlas di atas, saya begitu terkesan dengan Cantraka Awam, meski kelihatannya manusia biasa, atau bahkan bisa dibilang miskin ilmu dan jabatan. Namun, betapa ikhtiar sungguh-sungguhnya mengantarkan ia pada predikat lulus ritual ikhlas dan dapat melanjutkan ritual ikhlas jenjang berikutnya. Allah Maha Melihat kesungguhan hati dan kesungguhan ikhtiar hambaNya. Setelah niat suci, selanjutnya harus diikuti cara yang baik, keterbukaan hati adalah wujud kesungguhan dalam berikhtiar, artinya ia sebagai manusia sangat menyadari bahwa ikhtiarnya tak mungkin sempurna, maka kesempurnaannya adalah rahasia Allah dan ketika ridho Allah terhadiahkan untuknya.

Komentar untuk "Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis 2"

Bismillah,
Luar biasa, ilmu Allah itu sesungguhnya tidak ribet ya, lagi-lagi lebih pada peran hati. Manusia memiliki 2 unsur, yaitu fisik atau raga DAN ruh atau hati. Manusia sejak zaman azali berupa ruh, hidup di bumi berupa paduan fisik dan ruh, kemudian di akhirat kelak kembali berupa ruh.
Ketika manusia hidup di dunia, dua unsur ini memiliki kebutuhan berbeda dan peran berbeda namun harus senantiasa berpadu. Kalau saya membahasakannya: fisik atau raga itu makhluk bumi, sedangkan ruh atau hati itu makhluk langit. Maka makhluk bumi akan kembali ke bumi, makhluk langit akan kembali ke langit.
Begitu pula saat di dunia, fisik atau raga akan bertahan dengan kebutuhan materi berupa makanan, minuman, tidur, pakaian, dsb. Sedangkan ruh atau hati akan bertahan jika ia mendapatkan haknya pula, yaitu keterhubungan dengan langit. Ritual ikhlas merupakan upaya untuk memberikan haknya ruh atau hati. Maka untuk menggapai keikhlasan, cukup bekal kebersihan hati berupa niat yang tulus karena Allah.