Minggu, 29 November 2015

Pilihan Itu Ada di Depan Mata

Siang itu, aku keluar dari kelas, dan menuju hall. Tak diduga, bertemu lagi dengan seorang mas-mas, yang pernah kutemui beberapa pekan lalu, di tempat yang sama. Namanya, aku tak tahu. Yang aku tau, beliau seorang mahasiswa. Kedatangannya kemari karena beliau merupakan delegasi dari kampusnya. Kampusnya manapun aku tak bertanya. Mahasiswa S1, S2, S3, pun aku tak tahu. Perjumpaan pertama, saat itu beliau tengah menunggu waktu & penjemputan untuk kembali ke kampusnya. Beliau ditemani seorang ibu-ibu, sepertinya sih usianya lebih tua, entah teman kuliah, dosen, atau siapanya, aku juga tak tahu, tak bertanya. (Hmmm...kok sepertinya cuekku semakin akut ya?). Waktu itu kami bertiga terlibat diskusi, sebentar, sharing lebih tepatnya.

Hari ini, tak disangka bertemu lagi dengan mereka berdua, dengan latar dan setting yang 90% sama. Kenapa? Dua orang yang sama, di tempat yang sama, tengah menanti waktu & penjemputan, dan sepertinya kepentingannya ke kampus ini juga sama. Hanya materi diskusi kami yang tentu sedikit berbeda, lebih tepatnya memperdalam sharing singkat waktu itu. Pada beberapa diskusi terakhir, hanya melibatkan aku dan masnya, karena ternyata ada beberapa pengalaman dan ketertarikan kami pada bidang yang sama. Akhirnya sang ibu berpamitan, karena jemputan sudah datang. Sesaat sebelum pergi, masnya minta nomor hp ku, agar bisa berkomunikasi dan sharing. Kutuliskan pada secarik kertas bagian paper yang beliau bawa. Waktu itu kok aku bisa agak lupa digit nomor hp ku ya, dan sepertinya aku tak menuliskan nomor yang biasa aku gunakan, dan mungkin nomor yang kutuliskanpun bisa salah atau kurang. Terburu oleh datangnya jemputan, akupun lupa membubuhkan namaku di sana. Entahlah. Kamipun berpisah. Dan anehnya, meski pertemuan kedua dan terlibat diskusi menarik, kenapa aku tak mencoba menanyai, minimal siapa namanya. Entah apa yang di pikiranku waktu itu, benar-benar tak berinisiatif untuk mengenal nama, kampus, asal, atau apalah.

Seperginya mereka, beberapa temanku datang.
"Ehm...ehm...ada yang cemburu lho!", kata salah satu temanku, melirik pada temanku yang lain.
Namun, yang diliriki berusaha datar. Aku? aku tak paham maksudnya. Masih cuek dan tak tertarik oleh sindiran itu. Halah. Kapan sembuh?

Aku berlalu meninggalkan mereka, hanya berpindah lokasi. Merekapun mengikutiku, aku hanya sedikit berbincang dengan temanku, yang perempuan. Ia memberi pengertian kepadaku, bahwa ada yang cemburu melihat aku terlihat asyik berbincang dengan mas-mas tadi. Siapa yang cemburu? Tak lain, salah satu orang yang dilirik saat temanku menyindirku tadi.

"Bodoh amat!", batinku. "Salah siapa gak tegas, gak jelas. Bikin akunya MALES". Hufttt!

"Ya, jangan cuek bebek gitu napa! Mungkin dia bingung caranya menyampaikan ke kamu dengan bagaimana. Kamu aja dingin, dikode gak paham-paham!", jelasnya.

"Aku gak butuh banyak kode. Sekali, dua kali kode, aku bisa terima. Ketiga gak segera action, tinggal! Lupakan!", jawaban cuekku.

"Dia mungkin menunggu responmu, kalau ada kemungkinan kamu terima, dia lanjut".

"Terlalu penakut. Bukannya aku sudah cukup terbuka? Kalau memang dia serius dan berniat baik, dia akan cari cara yang baik untuk menyampaikan niat baiknya. Perkara aku terima ataupun tidak, itu urusan belakangan. Lagipula, aku kan bukan perempuan yang membangun tinggi tembok kriteria, dimana gak sesuai kriteria langsung pangkas, bukan kan? Aku punya kriteria, memang. Tapi aku juga bisa mempertimbangkan, sekalipun tak ada kriteria itu dalam dirinya. Aku hanya ingin melihat kesungguhan dan komitmennya".

Temanku terdiam, termangu menyimak penjelasanku.

Hufttt! Sebenarnya aku malas menjelaskan hal itu ke temanku. Obrolan seperti ini membuatku hilang mood.

Tentang keberadaan kedua temanku yang laki-laki tadi. Entah, masih di belakang sana.

-*-

"Astaghfirullahal 'adziim...Waktu menunjukkan pukul 14.26 di hp ku. Aku harus segera bangun."

Tiba-tiba teringat wejangan kepala sekolahku, Jumat pagi itu.

"Sudah mau 2016 bu. Bagaimana targetnya? belum tercapai? Hanya 1 kuncinya agar target tercapai, lakukan!"

"Kalau saya dulu, lulus kuliah, target nikah. Maka yang saya lakukan, cari istri. Waktu itu ada 3 kondisi, 1. saya suka, tapi dia gak suka; 2. ada yang menyukai saya, tapi saya gak sreg; 3. saya cari, dan ketemu yang jadi istri saya ini. Saya dulu syaratnya cuma 1, perempuan yang mau saya nikahi."

"Seorang yang beriman, itu yakin sama Allah. Njenengan yakin tidak, kalau jodoh itu sudah ditentukan?"

"Iya, yakin pak.", jawabku.

"Nah, kalau njenengan yakin. Saat ada laki-laki yang mau menikahi njenengan, tapi gak sesuai dengan kriteria njenengan, apa njenengan akan menolak?"

"Ya kalau dia memang jodoh saya, saya gak bisa nolak Pak".

"Nah, artinya kita hanya bisa berikhtiar sebagai manusia, dan saat ada yang datang, hanya ada 1 pertanyaan ke Allah 'Ya Allah, apakah dia jodohku?', selanjutnya ikuti alurnya".

"Bu, ideal, sempurna, sesuai kriteria, itu hanya ada di dua tempat, 1. yang ada di pikiran, 2. yang belum terlahir. Kita tidak selalu mendapatkan jodoh seideal yang kita inginkan. Yang ada adalah saling menyesuaikan, setelah menikah".

"Saya yakin, di hadapan njenengan ada beberapa pilihan. Berapa? satu? dua? tiga? empat? lima?".

Kujawab dengan senyuman.

"Njenengan jangan membatasi cara. Jodoh njenengan bisa jadi datang lewat teman, bisa jadi datang sebagai orang yang memang menyukai njenengan, atau mungkin orang yang njenengan sukai. Pasti ada kan yang sekarang di hadapan njenengan dari 3 kondisi itu? Pilih bu! Lakukan, pilih, ikhtiari, tanya ke Allah 'Ya Allah, apakah ini jodohku?' Sederhanakan kriteria dan action! Actionnya dengan memilih. Jangan menunggu yang sempurna."

Aku tak banyak kata, tak banyak tanya, terus menyimak nasihat beliau. Wah, ending dari diskusi kami yang tadinya tentang sekolah, berujung tentang jodoh, berawal gara-gara salah nulis tahun, seharusnya 2016, namun kutulis 2015. hehe... Siplah. Kucoba telisik lagi nasihat beliau dengan kondisi-kondisiku, maupun rencana-rencanaku ke depan. Ada banyak hal yang mesti kubenahi. Agar aku tak terburu, namun tak menunda-nunda lagi. Berhati-hati dan bersegera. Memilih. InsyaaAllah... :-)

-------------------
Cerita ini hanya cerita fiktif yang terinspirasi dari kisah nyata.

Nostalgia: Jejak Pengalaman yang Terekam


Nemu tulisan di blog lamaku, dg judul "Puzzle Bulan Mei (1)"
--
hanya ingin bercerita, sebuah peristiwa yang sering membuatku tertawa jika mengingatnya…


Rabu, 19 Mei 2010

Hmm…hari yang cerah…aku bisa mengawalkan hari ini untuk ke Sekret ReMa, lagipula kemarin aku sudah janji pada Bu Menkominfo, untuk mengumpulkan jatah tulisanku di Remapost edisi Mei. Hari ini kuliahku kosong, jadwal hari ini dialihkan ke hari lain karena ada beberapa kelompok teman sekelasku tengah ujian Real Teaching di SD tempat KKN-PPL, sedangkan kelompok KKN-ku sudah ujian pekan lalu sesuai jadwal.

Upzz…rublik ‘Bincang Tokoh’ belum kuselesaikan! Akhirnya, pagi sekitar jam 7 pagi aku hubungi Pak PresMa untuk kuwawancarai terkait Pengawalan BEM SI Terhadap Kasus Century. Sebelumnya kuSMS dulu beliau untuk memastikan, tetapi tak dibalas. Kemudian langsung aku telepon dua kali, namun tak ada jawaban juga. Beberapa hari yang lalu aku gagal untuk menemui beliau langsung karena terhambat beberapa hal, terlebih jadwal yang kurang sinkron. Begitu waktu sudah mepet, kebingungan dech. Pasalnya Mas Fiqi sudah berangkat ke Jakarta kemarin pagi untuk persiapan agenda aksi tanggal 20 Mei, momentum Hari Kebangkitan Nasional. Aku bingung harus menghubungi siapa. Kuputar otakku untuk mengingat-ingat siapa anak Rema yang bisa kuwawancarai sebagai pengganti Mas Fiqi. Aha…Mas Asnan!!? Beliau kan Menteri Sospol Rema. Tanpa berpikir panjang, langsung kuketik nomornya ke handphone ibuku, hehe… Ceritanya baru nyewa HP ibu nich, soalnya nomor HP yang mereka pakai tak bersahabat kalau harus kupanggil lewat nomor HPku. Aku coba SMS dulu pakai nomorku sendiri, sebagai permintaan izin untuk kutelpon. Beberapa menit kutunggu, tak ada balasan. Karena aku sedang tidak ingin bersabar menunggu SMS, langsung saja kutelepon.

“Assalamu’alaikum…!”, nada sapaan yang khas dari seberang.

“Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokaatuh. Mas Asnan, ini Isna”.

“Ow, Isna. Ada apa Isna?”, sahutnya segera.

“Barusan aku SMS, dah dibaca belum? Ta tunggu, malah ga dibales-bales sch?? “, jawabku.

“Ow iya, ada 2 sms…Lha gimana, gimana, Isna?”, tanyanya dengan nada yang seolah sedang menanyai seorang anak kecil. Ya, beliau memang seperti itu.

Akhirnya, aku sampaikan keinginanku dan alasan secara langsung. Eh, malah diketawain…

“Hahaha…katanya Remapost dah jadi? Tinggal terbit sebelum tanggal 20? Ini gimana ini?”, pertanyaan yang sedikit ingin menjatuhkanku dengan candanya.

“Yee…siapa yang bilang kalo’ udah jadi? Kemarin juga aku bilangnya sebelum tanggal 21, bukan tanggal 20. Lagian 90 % isi dah jadi kok, nanti juga mau diselesaiin. Gimana Mas, bisa ga? Wiz, pokok e bisa, ya!!!”.

Bukannya jawaban iya atau tidak, tapi malah menawarkan sederetan nama lain. Aku lontarkan saja beberapa alasan yang tidak terlalu kuat sebenarnya untuk menolak. Kuyakinkan beliau yang harus menolongku, dan berhasil.

“Ya sudah, nanti ketemu langsung aja di Rema, kan lebih enak ngobrolnya, kalau lewat telpon tu ga jelas. Jam 10 ya!”.

“Hah, jam 10? Terlalu siang tuh, lebih pagi lagi bisa? Segera ini Mas!”

“Oke, jam 9 ya!”

“Jam 8”.

“Emoh aku, pagi amat…ga bisa!”

“Ya dah, jam 8.30. Bisa ya Mas! Please!”, pintaku agak merayu.

“Ya, sudah…InsyaAllah. Tapi lebih sedikit ya!hehehe…”.

“Enggak! Isna aja dari rumah-Bantul, berani jam setengah sembilan kok… Masak Mas Asnan anak kost, deket, ga bisa?”, maksa nich.

Setelah proses tawar menawar cukup, segera kututup telponnya. Alhamdulillah…sudah dapat cadangan. Tiba-tiba aku terpikir untuk menelpon ulang Mas Fiqi, siapa tahu kali ini diangkat. Sayang kan kalau hanya dipakai sedikit, karena nomer ibu sudah terlanjur aku daftarkan program Talkmania.

Yuhui…apa kataku. Satu, dua, tiga kali tidak berhasil, maka siapkan untuk yang keempat kalinya,never give up-lah intinya! Dan, alhasil panggilanku diterima. Setelah berbasa-basi sebentar, langsung kuutarakan ulang perihal tujuanku menelpon beliau, dan beliau langsung mengerti karena beberapa kali sebelumnya sudah aku kejar-kejar untuk wawancara. Satu per satu pertanyaan aku sampaikan, ya terkadang pertanyaan yang tak begitu logis aku tanyakan, kadang pula jawaban yang tidak logispun dijawabnya. Ah, itu hanya untuk intermeso saja, sekalian menyambung diskusi.

Setelah mendapatkan jawaban yang cukup, segera kusudahi pembicaraan itu, karena tak terasa 30 menit sudah aku mewawancarai beliau. Akupun berpamitan, kututup telponku, dan kumatikan pula recorder yang kupakai untuk merekam selama wawancara berlangsung. Hasil rekaman suara itu segera aku pindahkan ke laptop-ku.

Akupun bergegas untuk bersiap-siap dan berangkat ke kampus, sudah terlanjur janji juga dengan Mas Asnan. Meskipun sudah berhasil mewawancarai Mas Fiqi, siapa tahu nanti dengan berbicara dengan Mas Asnan bisa semakin mempertajam pemahamanku, sehingga bisa mengolah ulang jawaban-jawaban Mas Fiqi yang lumayan high grade, apalagi aku tak terlalu paham terkait Kasus Century ini.

–***–

Teringat target waktu untuk naik cetak, rublik ini harus segera kuselesaikan. Aku sedikit kesulitan mengetik hasil wawancara itu. Mengetik sambil mendengarkan rekaman, berulang-ulang me-repeat, kadangpula aku dekatkan telingaku ke samping sumber suara dari laptopku, karena suara rekamanku tersaingi oleh musik dari komputer Rema, apalagi pakai external sound, lebih mantap suaranya.

Ternyata ada yang peka dan sedikit memperhatikan kesibukanku, Mas Mekel memberikan handset-nya untuk membantuku memperlancar tugasku. Hehehe…jadi malu. Mas Mekel emang kelihatannya cuek, tapi beliau baik, pernah memberiku es krim rasa sapi juga, eh rasa susu sapi nding… sampai-sampai aku tuliskan dalam buku harian curhat Rema, ada Singa berhati Sapi, hihihi…! Eitzz, yang dikasih es krim tidak hanya aku lho, tetapi juga kedua temanku. So, beliau mengalah dech…tidak ikut makan. Padahal es krim itu niatnya mau dimakan sendiri pasti, karena es krim adalah makanan favoritnya. Dan nampaknya sekarang es krim menjadi makanan favorit anak-anak Rema.

Siiip…!! Terimakasih Mas Mekel… Jobku cepet selesai nich! Handsetnya benar-benar membantu, memfokuskan pendengaran dan konsentrasiku. Sekitar jam 10.30 tugasku selesai, tak tersadari ternyata di ruangan itu sudah ada banyak manusia dari segala penjuru fakultas. Di Ruang Rapat samping Sekret Rema yang untuk sementara beralih fungsi untuk menyimpan jas almamater dan kaos untuk maba, ada Mbak Nurha, menteriku tengah sibuk meng-edit seluruh isi tulisan yang bakal dimuat di Remapost. Mbak Uut, Mbak Tantri, Dek ‘Capa ya?’ (Maaf, belum hafal namanya) lagi sibuk nyiapin buat agenda RLC tanggal 23 Mei. Mas Mekel, Mas Asnan, Mas Diqi dan beberapa anak BEM F sedang sibuk mempersiapkan peralatan yang akan dibawa ke Jakarta sore ini. Lhoh, ini kok adakemenyan, tungku kecil, areng, sekeranjang kembang setaman, dan 3 tas besar berisi baju Jawa?

Aduh-aduh, ada indikasi anak-anak Rema sudah mulai syirik ini. Upzz, itu peralatan yang akan mereka bawa ke Jakarta. Katanya sich, ceritanya waktu aksi tanggal 20 besok dari BEM REMA UNY mau menunjukkan teatrikal ‘merukyah Budiono dan Sri Mulyani biar setannya pergi dan mereka segera sadar’. Duh, ada-ada saja anak Rema ini, nggak ngihwah banget sich!

–***–

“Wah, perutku laper nich, dari pagi mikirin kejelasan orang yang ikut ke Jakarta bikin ga doyan makan”, keluh Mas Asnan setelah selesai mengfixkan orang-orang Rema maupun BEM F yang akan ikut serta dalam aksi esok.

“Isna… Sudah makan belum? Aku laper nich Is!”, tanya Mas Asnan dengan nada yang bisa kuterjemahkan apa maksudnya.

“Isna kan anak rumahan, Mas. Tiap pagi dah makan donk!”. “Hmm…bau-bau ga enak nich perasaan”, lanjutku.

“Ini kan udah siang, Isna pasti laper, ya kan? Nich ta kasih uang Is!”, rayu Mas Asnan sambil menyiapkan selembar uang seratus ribuan.

“Tuh kan, baunya ga enak beneran…!”.

“Iyo, Is! Kita laper, lagian dirimu kosong kan? Dibayari Asnan kok”, timpal mbak Nurha.

“Nah, mau ya Is, ya! Tuh Mas Diqi juga laper”, tambah Mas Asnan.

“Uang apa itu, Nan? Halal kan? Bukan uang yang buat aksi kan?”, tanya Mas Diqi memastikan.

“Ngece ki, yo udu, duite dhewe, bar tompo pitungatussewu je!”.

“Nah sip, itu lho belinya di Anjli aja!”.

“Mana itu? Isna ga tau tempat-tempat yang biasa buat beli maeman di sini!”, tanyaku meminta penjelasan. Kemudian Mas Diqi memberikan penjelasan denah tempatnya sedetail mungkin.

“Ow iya Mas, motorku lagi dipinjam mbak Yoland, pake’ motor siapa ini?”

“Tuh, pakai motor Iva aja!”. “Ya, va?”.

Iva pun memberikan kunci sepeda motornya dan menjelaskan dimana ia parkir serta ciri-ciri sepeda motornya, karena aku memang benar-benar belum tahu. “Motornya tak taruh di parkiran samping SC, Vega warna merah putih, yang putih bagian belakang. Platnya AB bla bla bla RZ”, rekamanku.

Akupun berangkat diri menuju parkiran samping SC. Mataku mulai berkelana mengamati plat berakhiran Z di barisan paling timur, tak ada. Akupun masuk tempat parkir, kuamati barisan sebelah barat.

“Aha! vega, belakang putih, Z, ketemu! Tapi kok EZ bukan RZ ya? Oh, mungkin aku tadi salah dengar. Mungkin maksudnya EZ, bukan RZ!”, suara hatiku bertanya dan menjawab.

Lalu kucoba kunci itu untuk membuka jok belakang. Yupz, bisa dibuka. Itu artinya semakin meyakinkan bahwa aku tidak salah mengambil sepeda motor. Dan kuambil helm yang tercenthel di Jok, ingin kutinggal saja, toh tempat beli makan hanya dekat, sekitar 150 meter, di dekat Lembah UGM, tepatnya di pinggir jalan perbatasan UNY-UGM. Kupasang kunci itu di tempat semestinya, bisa masuk, tapi kok agak seret ya, ah mungkin karena memang sepeda motornya sudah agak tua. Kualihkan dari barisan, lantas aku hidupkan dengan starter kick-nya karena sepertinya starter otomatisnya sudah rusak. Siip, akupun melaju dengan sepeda motor itu mencari warung Anjli, kuamati satu per satu nama warung yang berada di kanan jalan, sesuai penjelasan yang diberikan Mas Diqi. Yuhui, tak perlu berputar-putar apalagi pakai acara nyasar, Warung Anjlipun kutemukan.

Setelah motor kuparkirkan, akupun segera memesan makanan.

“Silakan mbak, mau pesan apa?”, kata seorang laki-laki yang tengah menggoreng tempe. Desain tempat yang baru kusadari setelah pulang dari warung tersebut, tempat memasak atau dapur justru berada di ujung depan, tempat makannya berada di dalam, dan ternyata karyawannya laki-laki semua, wow…! Semakin banyak laki-laki yang mendominasi sektor ini.

“Nasi, ayam, 6 ya Mas, dibungkus! Es tehnya juga 6!”

Akupun duduk di kursi yang sudah disediakan untuk menunggu. Huft, lama! Maklum sich, karena pembelinyapun cukup banyak, so, kudu antri.

“Sudah mbak? Jadi total semuanya Rp 8.000 x 6 = Rp 48.000”.

“Ow, ya, ini Mas!”, kuulurkan uang seratus ribuan.

“Jadi kembaliannya Rp 52.000 ya mbak, silakan!”

Setelah kucek uang kembalian yang diberikan pas, akupun pamit, “Yak, pas! Terimakasih Mas!”.

“Iya, sama-sama Mbak”.

Hmm… makanan di kota mahal ya, mau makan pakai lauk ayam saja, 8.000 per porsi. Emang jauh lebih murah di kampung, harga 5.000 sudah bisa. Apalagi masak sendiri, yang masak ibu tapi, hehe… jauh lebih murah dan lebih enak pastinya. Jadi anak kost, emang mahal di makannya, beli terus sich.

Huft… berat juga bawa nasi dan es teh 6 bungkus. Sebenarnya tidak terlalu berat kalau dibawa sambil jalan kaki saja, jadi bisa dibagi 2 tangan. Mau tak mau, harus bisa, hati-hati, jangan sampai jatuh ya! Tangan kiri membawa barang, tangan kanan memegangi stang untuk mengemudikan sepeda motor. Pelan-pelan akhirnya sampai di tempat parkir samping SC.

Lhoh, kok ada banyak orang? Saat aku datang, semuanya mengarah kepadaku. “Nah, itu dia!”, suara terdengar sangat tegas dan sepertinya dihantarkan aura emosi. Apa yang salah padaku? Semua mata di sana menatap ke arah diriku. Dan tak ada yang aku kenal wajah-wajah itu. Ya Rabb, apa yang terjadi? Aku tak merasa melakukan kesalahan yang mengusik orang lain. Aku juga tak pernah berulah yang macam-macam.

“Mbaknya pakai motor siapa?”, tanya Pak Penjaga Parkir SC.

“Motor teman saya, Pak. Anak BEM Rema”.

Waktu ditanya siapa nama temanku itu, seketika itu juga aku lupa namanya, karena memang aku belum terlalu hafal dengan nama Iva. Kemudian aku jelaskan bagaimana aku mengambil motor itu. Kunci sepeda motor itupun diminta Pak Penjaga untuk di pasang ke sepeda motor yang mereka curigai, yang tak lain adalah motor Iva yang asli. Ya, sepertinya aku salah ambil motor.

“Sebentar ya Mas, saya panggilkan dulu orang yang meminjami saya motor”.

Aku lari masuk ke SC, langsung menuju Sekret Rema. Di sana Iva sedang memasang leaflet bersama Mas Asnan di depan pintu Sekret, langsung kusampaikan bahwa aku kena kasus. Kuberikan barang-barang itu pada Mas Asnan, saking kebawa cemas, aku sampai lupa adab. Bagaimana Mas Asnan bisa mengambil barang sebanyak itu dari tanganku? Menerima dari bawah seketika, tidak mungkin, terlalu banyak. Jika dari atas, terhalang oleh tanganku, itu artinya beliau akan menyentuh tanganku. Tidak! Pintu Rema masih dikunci, mungkin karena ditinggal sholat. Untungnya pikiran beliau adem, ada loker di samping pintu sebelah timur, beliau memintaku menaruhkan barang-barang itu di atasnya.

Kuajak Iva ke parkiran samping SC. Dan kami selesaikan masalah itu di sana.

Oh, No! Benar ternyata, aku salah ambil sepeda motor orang lain. Pak Penjaga dan pemilik sepeda motor itupun paham, tak memperpanjang masalah itu, karena memang alasanku dan buktinya sesuai dan juga bukan kesalahanku sepenuhnya. Sekali lagi, itu adalah kesalahan yang bercampur ketidaksengajaan.

“Makanya mbak, lain kali kalau pinjam motor itu diperhatikan nomor platnya, dihafalkan!”, tegas seorang teman sang pemilik sepeda motor tanpa senyum sedikitpun.

Huft, ini orang ketus banget, yang punya saja tidak emosi. Tanpa pembelaan lagi, akupun menjawab, “Iya Mas, maaf ya, saya benar-benar ga sengaja!”.

Sang pemilik hanya tersenyum. Dan ternyata, dia merupakan teman sekelasnya mbak Nurha. Itu aku tahu setelah Mbak Nurha ikut menghampiriku di tempat parkir. Hmm…barusan aku sedang berhadapan dengan anak FBS, ya sudah karakternya seperti itu.


Jumat, 11 September 2015

Diingatkan oleh tulisan lama..

Sebuah Awalan Bismillahirrohmanirrohiim… tak pernah malu untuk memulai, tak pernah jemu untuk belajar, tak pernah lelah untuk mengejar impian, tak pernah takut untuk gagal…>